Latihan hidup sederhana juga membuat kita menyadari bahwa hidup kita di dunia ini seperti layaknya seorang musafir, seorang yang hanya menumpang di dunia yang sementara ini. Orang yang hidup sebagai musafir tidak akan memiliki satu ambisi untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, sebagaimana seorang yang sedang bepergian tidak akan membawa bekal sebanyak-banyaknya, karena dia tahu seluruh hidupnya adalah sebuah perjalanan yang bersifat sementara, menuju kepada kekekalan. Seluruh kehidupannya adalah kehidupan yang investasinya pada kehidupan yang akan datang, bukan kehidupan saat ini.
Alkitab mengajarkan bahwa mereka yang hidup berkelimpahan adalah mereka yang hidupnya mengalirkan pemberian. Sebab lebih berbahagia mereka yang memberi daripada yang menerima. Ada orang yang secara materi hidupnya berkelimpahan, namun seperti kata firman Tuhan ‘tidak diberikan karunia untuk menikmatinya’. Orang seperti ini sebenarnya miskin dan kasihan sekali. Hidupnya bukanlah hidup yang mengalirkan berkat Tuhan, melainkan yang menyedot semua keuntungan untuk dirinya sendiri. Sebaliknya, orang yang menurut ukuran dunia bukanlah orang yang berkelimpahan, namun yang hidupnya senantiasa memberi dan mengalirkan anugerah dan berkat Tuhan bagi orang lain adalah orang yang sungguh-sungguh hidup dalam segala kelimpahan, karena hidupnya selalu luber. Maka pada saat kita memberi, kita sekaligus mengalami pembentukan Tuhan untuk memasuki kehidupan yang semakin diperkaya di dalam Dia.

0 komentar:
Posting Komentar